Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan:Harga Tomat Anjlok,Dinas Pertanian Sumbar Minta Petani Berinovasi. - Cahaya Realita

Breaking

Selasa, 05 November 2019

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan:Harga Tomat Anjlok,Dinas Pertanian Sumbar Minta Petani Berinovasi.

Padang (SUMBAR),CR-Seharusnya Pembangunan pertanian memerlukan konsep dan manajemen yang tepat dan efektif mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, penilaian, tindak lanjut, menuju hasil yang positif dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat. Pembangunan pertanian dimaksudkan sebagai usaha pembaruan penataan pertanian yang menyumbang pada upaya mengatasi kemiskinan atau meningkatkan kesejahteraan petani. Pembangunan pertanian masa lalu lebih menekankan tercapainya swasembada pangan khususnya beras.
Kenyataannya, pendekatan pembangunan tersebut berdampak sangat minimal terhadap kesejahteraan petani. Karena itu, arah kebijakan pertanian diubah sehingga lebih berwawasan agrobisnis lewat kompetisi, desentralisasi, otonomi daerah, berbasis kemanusiaan dan berkelanjutan. Perubahan paradigma pembangunan pertanian tersebut mempunya kendala, diantaranya : sulitnya mengubah pola pikir dari pihak-pihak terkait, terutama perubahan pola pikir birokrasi. Di sisi lain ditemukan ketidakjelasan kaitan pembaruan kebijakan dengan kebijakan sektor lain
Koordinasi lembaga terkait dalam pembangunan pertanian terasa lemah. Misalnya, lembaga yang mengurus pertanian, permukiman dan prasarana wilayah, perindustrian dan perdagangan serta logistik belum mempunyai program terpadu dan terintegrasi dalam memacu peningkatan pembangunan pertanian di daerah, sehingga produktivitas pertanian merosot, yang pada gilirannya petani kecewa dengan harga komoditas pertanian. Pembangunan pertanian mempunyai implikasi terhadap aspek-aspek pelayanan sosial, pengenalan teknologi baru yang berdampak terhadap petani.
 Karean itu Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) minta petani agar melakukan inovasi. Ia mengatakan bahwa dinas pertanian Sumbar telah melakukan penyuluhan ke petani, agar melakukan inovasi pengelolahan tomat. Sehingga tidak mengalami kerugian seperti kondisi yang tengah dialami baru-baru ini. "Tomat bisa diolah menjadi saus tomat misalnya. Sehingga tomat tidak membusuk di gudang maupun di pedagang. Tapi kita malah disebut merugikan mereka [petani]. Mereka lebih mendewakan agen. Ya mau tidak mau, kita biarkan kondisinya seperti ini," ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar, Chandra di Padang, Senin ( 30/10). Menurut Chandra, adanya ketidak percayaan atas program pemerintah untuk petani menjadi salah satu karakter petani di Sumatera Barat. Akibatnya, ketika petani mengalami kondisi keterpurukan, pemerintah tetap jadi sasaran. 
Menanggapi anjloknya harga tomat di tingkat pedagang, karena memang produksi tomat di tingkat petani tengah melimpah dibandingkan musim-musim sebelumnya. Sumbar tercatat memiliki lahan perkebunan tomat sekitar 3.600 hingga 4.000 hektare yang tersebar di Kabupaten Tanah Datar, Agam, Solok, dan sedikit di kawasan pertanian di Kota Padang Panjang. Dari luas lahan itu, ada puluhan ton tomat yang dipanen."Sebenarnya hasil panen tomat di Sumatera Barat telah dikirim ke berbagai provinsi tetangga seperti Jambi, Riau, dan daerah lainnya. Sementara di Sumatera Barat sendiri hanya sedikit dipasarkan, karena kebutuhan tomat di daerah kita tidak begitu besar. Anjloknya harga tomat ini ya memang karena produksinya lagi melimpah," sebutnya.(*Jn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halaman