Sektor pertanian masih memberikan peranan penting dalam struktur ekonomi Sumbar. Sumbar Sentra Manggis Terbesar Kedua di Indonesia - Cahaya Realita

Breaking

Minggu, 14 April 2019

Sektor pertanian masih memberikan peranan penting dalam struktur ekonomi Sumbar. Sumbar Sentra Manggis Terbesar Kedua di Indonesia

Padang (Sumbar ),CR-Sektor pertanian masih memberikan peranan yang cukup penting (22,27%) struktur ekonomi wilayah Sumatera. Penentuan komoditas unggulan menjadi penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah. Untuk mengetahui komoditas sektor pertanian apa saja yang unggul di wilayahSumatera, dan  bisa dikembangkan  dan di lakukan lah penelitian oleh beberpa pkar pertanian.  dan hasil penelitian  menunjukkan komoditas unggulan sektor pertanian diwilayah Sumatera pada subsektor tanaman pangan adalah padi (1,2069), Kedelai(1,6451), Kacang Tanah (2,6188), Kacang Hijau (1,3934), dan Ubi Jalar (3,0327dengan wilayah potensial meliputi Aceh, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu,Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau. Hortikultura yang unggul terdiridari Alpukat (1,5469), Duku/Langsat (1,3784), Durian(1,6383), Jambu Biji (1,2007),Mangga (1,9773), Manggis (1,5914), Pepaya (1,1379), Rambutan (2,1190) dan Sawo(1,5509).

Hampir seluruh wilayah di Sumatera unggul untuk pengembanganhortikultura, kecuali Provinsi Sumatera Selatan dan Lampung. Perkebunan yangunggul meliputi Karet (1,3440), Kelapa (4,5017), Kopi (1,7280), dan Tembakau(1,7506) dengan wilayah unggulan meliputi Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan,Lampung dan Kepulauan Riau. Hutan yang unggul adalah hutan lindung (1,0966), danhutan suaka alam dan peletarian alam (1,2638) dengan wilayah unggulan SumateraUtara, Sumatera Barat, Riau dan Bengkulu. Subsektor peternakan yang unggul meliputiAyam Pedaging (1,0681), Sapi(1,0313), dan Kambing (1,0205) dengan wilayahunggulan Aceh dan Sumatera Utara. Subsektor Perikanan dengan komoditas unggulanmeliputi perikanan laut (1,0592), budidaya laut (1,2843), kolam (1,0015) dan sawah(1,2841) dengan wilayah unggulan terdiri dari Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampungdan Kepulauan Riau.Kata Kunci : Basis, Non Basis, Pertanian
Sumatera Barat menjadi sentra manggis terbesar nomor 2 setelah Jawa Barat yang produksinya 42.122 ton atau 26 persen dari produksi nasional. Sementara, produksi manggis se-Sumatera pada 2017 mencapai 65.372 ton atau 40 persen dari produksi nasional. Untuk 2018, prognosa produksi manggis sebesar 166.725 ton, naik 3 persen dari 2017.Hal ini terungkap saat dilakukan pelepasan ekspor perdana buah manggis ke China dari Sumbar, yaitu di Kabupaten Lima Puluh Kota, Selasa (10/3),oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.Amran mengungkapkan prediksi ekspor manggis di tahun 2018 mencapai 60.000 ton atau naik 553 persen dari 2017 yang hanya 9.167 ton. Ekspor ini merupakan 38 persen dari total produksi manggis nasional 2018 sebesar 166.725 ton.

"Menariknya, dari 10 eksportir, baru pertama kali ini eksportir dari Sumatera Barat, sehingga perlu dicontoh daerah lain. Hari ini kita buktikan, berkat kemajuan teknologi yang kita hasilkan sendiri, kita tingkatkan lagi ekspor. Ekspor komoditas hortikultura ke berbagai negara," ungkap Mentan.
Sentra produksi manggis di Indonesia sendiri, dikatakan, tersebar dari Sumatera sampai Nusa Tenggara Barat. Pada 2017, produksi manggis Sumatera Barat mencapai 34.422 ton atau 21 persen dari produksi nasional 161.751 ton.Peluang ekspor manggis ke China sendiri baru dibuka kembali setelah empat tahun sejak dikeluarkannya larangan impor komoditas manggis dari Indonesia.

Tercatat, berdasarkan data BPS, nilai ekspor manggis ke China pada tahun 2012 mencapai 8.200 ton dengan pangsa pasar 18,84 persen dan menjadikan China sebagai pasar ekspor manggis terbesar Indonesia.Di tempat yang sama, Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit mengapreasisi tekad Kementan melalui Direktorat Jenderal Hortikultura yang menjadikan buah manggis sebagai komoditas unggulan tropis. Untuk ini, katanya, diperlukan perhatian secara serius oleh pemerintah daerah sebagai penentu kebijakan ditingkat daerah.Dijelaskan, ada delapan kabupaten/kota yang ditetapkan sebagai daerah kawasan manggis di Sumbar yaitu Kabupaten Limapuluh Kota, Tanah Datar, Solok Selatan, Pesisir Selatan, Sijunjung, Padang Pariaman, Agam dan Kota Padang.
Di tempat yang sama  Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Sumbar Candra juga menyatakan bahwa Sumbar merupakan salah satu provinsi yang mengandalkan ekspor dari komoditas pertanian karena komoditas perkebunan Sumbar seperti kelapa sawit, karet, kakao, gambir, dan kopi merupakan komoditas yang menyumbang terhadap pertumbuhan perekonomian di Sumbar.Untuk target pasar manggis, katanya, sangat luas. Candra optimis menyebutkan bahwa berapapun produksi manggis Sumbar bisa diserap pasar internasional. Kendalanya hanya pada permasalahan persyaratan dari karantina.

“Mereka terlalu ketat dengan bahan-bahan kimia. Contohnya, mungkin perlakuan kita pada on farm di tingkat petani, mulai dari berproduksi sampai selesai untuk ekspor, tidak ada mengondisikan komoditas terkontaminasi bahan kimia. Tapi ketika diekspor, bisa jadi ada dari para eksportir yang mungkin karena ketidaktahuan memberi tambahan bahan kimia untuk pengamanan agar komoditas tidak rusak sepanjang perjalanan. Ini kemudian jadi temuan di negara tujuan,” Candra mencontohkan.
Candra optimis, Sumbar bisa ekspor manggis secara langsung dan tidak akan mengalami kendala yang begitu berarti terkait proses produksi. Ini mengingat manggis tidak punya banyak potensi diserang hama penyakit selain masalah getah kuning yang muncul jika ketersediaan air tidak mencukupi di tempat bertanam manggis.
“Masalah manggis itu hanya getah kuning. Masalah getak kuning terkait dengan ketersediaan air, irigasi. Jadi walaupun di daerah kering ditanam, tapi tetap ada hujan dan tidak terlalu kering, manggis tetap bisa tumbuh dengan baik. Jika area terlalu kering, barulah muncul getah kuning di buah. Buah yang seperti ini ditolak oleh eksportir. Ini perlu dipahami,” tuturnya.Direktur Utama PT Bumi Alam Sumatera Anggri Purnama Agung dan Direktur Kerjasama Antar Lembaga Muhammad Bayu Vesky dalam keterangan persnya mengatakan ,”Biasanya, perusahaan kami mengirim manggis ke Malaysia via Dumai. Di sana (Malaysia dan Thailand,-red), produk kita ganti label.Produk manggis yang diekspor berasal dari rumah kemas PT Bumi Alam Sumatera, berasal dari area Sawah Laweh, Nagari Tungka, Situjuah Limo Nagari, Limapuluh Kota, Sumatera Barat (D).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halaman