Geliat Sektor Pertanian Sumatera Barat Pada komoditas unggulan yang berbasiskan kawasan. - Cahaya Realita

Breaking

Jumat, 22 Februari 2019

Geliat Sektor Pertanian Sumatera Barat Pada komoditas unggulan yang berbasiskan kawasan.

CAHAYAREALITA.comSektor pertanian masih memberikan peranan yang cukup penting (22,27%)dalam struktur ekonomi wilayah Sumatera. Penentuan komoditas unggulan menjadipenting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui komoditas sektor pertanian apa saja yang unggul di wilayahSumatera, dan pada setiap provinsi di wilayah Sumatera komoditas sektor pertanianyang unggul untuk dikembangkan ?.

Hasil penelitian ini menunjukkan komoditas unggulan sektor pertanian diwilayah Sumatera pada subsektor tanaman pangan adalah padi (1,2069), Kedelai(1,6451), Kacang Tanah (2,6188), Kacang Hijau (1,3934), dan Ubi Jalar (3,0327dengan wilayah potensial meliputi Aceh, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu,Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau. 

Hortikultura yang unggul terdiridari Alpukat (1,5469), Duku/Langsat (1,3784), Durian(1,6383), Jambu Biji (1,2007),Mangga (1,9773), Manggis (1,5914), Pepaya (1,1379), Rambutan (2,1190) dan Sawo(1,5509). Hampir seluruh wilayah di Sumatera unggul untuk pengembanganhortikultura, kecuali Provinsi Sumatera Selatan dan Lampung. 

Perkebunan yangunggul meliputi Karet (1,3440), Kelapa (4,5017), Kopi (1,7280), dan Tembakau(1,7506) dengan wilayah unggulan meliputi Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan,Lampung dan Kepulauan Riau. Hutan yang unggul adalah hutan lindung (1,0966), danhutan suaka alam dan peletarian alam (1,2638) dengan wilayah unggulan SumateraUtara, Sumatera Barat, Riau dan Bengkulu. Subsektor peternakan yang unggul meliputiAyam Pedaging (1,0681), Sapi(1,0313), dan Kambing (1,0205) dengan wilayahunggulan Aceh dan Sumatera Utara. Subsektor Perikanan dengan komoditas unggulanmeliputi perikanan laut (1,0592), budidaya laut (1,2843), kolam (1,0015) dan sawah(1,2841) dengan wilayah unggulan terdiri dari Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampungdan Kepulauan Riau.

Menurut Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, Pulau Sumatera merupakan salah satu pulau strategis yang perannya cukup besar menyumbang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Di mana Pulau Jawa tetap merupakan penyumbang pertumbuhan ekonomi tertinggi. Sementara di luar Jawa, Sumatera adalah salah satu penyumbang terbesar tersebut.
Dengan peran yang strategis tersebut, beragam isu yang terkait hajat hidup masyarakat dibahas di rakor. Seperti pendidikan, kesehatan, pertanian, perkebunan, infrastruktur, pariwisata, ketahanan pangan, mitigasi, dan termasuk juga isu ekonomi seperti inflasi, kemiskinan, pengangguran dan lainnya.
Pertama konektivitas, yaitu udara, laut dan darat (jalan tol dan jalur kereta api). Untuk udara, yaitu adanya rute pesawat terbang antarprovinsi, dan untuk laut adalah jalur kapal atau tol laut antarpelabuhan.
Sedangkan untuk darat adalah adanya jalan tol trans-Sumatera Aceh-Lampung (utara-selatan) dan juga Padang-Pekanbaru (barat-timur). Sedangkan untuk jalur kereta api diarahkan kepada provinsi-provinsi yang berdekatan, seperti Sumbar-Riau. Ini yang realistis bisa dilaksanakan. Sedangkan jalur kereta utara-selatan sepertinya masih memerlukan pembahasan lagi. Namun tidak menutup kemungkinan akan bisa direalisasi.
Poin kedua adalah perkebunan. Ini juga menjadi bahasan yang dominan. Karena sudah terjadi penurunan harga sawit dan karet yang merugikan petani/pekebun. Akhirnya disepakati untuk mencari investor yang mau membangun industri hilir. Dengan adanya industri hilir, maka harga lebih bisa terkendali dan tidak jatuh. Selama ini harga dalam perdagangan internasional lebih dominan diatur oleh pembeli dari mancanegara.
Dengan adanya industri hilir untuk sawit, ada tempat alternatif menjual produk tersebut di dalam negeri, sehingga tidak bergantung kepada pembeli mancanegara. Industri hilir ini akan memproduksi berbagai produk seperti sabun, minyak goreng dan lainnya. Industri hilir yang demikian juga bisa mengurangi pengangguran dan kemiskinan.
Sedangkan untuk karet juga diupayakan mencari investor yang akan membangun industri hilir seperti pembuatan aspal dari karet. Sehingga karet pun bisa lebih baik harganya, tidak tergantung kepada pembeli mancanegara. Selain itu diperlukan payung hukum dalam penggunaan aspal karet untuk jalan.
Poin ketiga adalah pariwisata. Hampir semua gubernur menyampaikan pentingnya promosi pariwisata sebagai upaya menarik wisatawan datang ke daerahnya. Promosi wisata antarprovinsi bisa menggaet lebih banyak wisatawan.
Dan poin keempat adalah distribusi pangan. Beberapa provinsi yang mengalami kekurangan pasokan pangan diupayakan akan mendapat pasokan dari provinsi yang memiliki kelebihan stok pangan. Hal ini penting untuk mengendalikan inflasi sehingga masyarakat pun terlindungi.
Empat poin tersebut adalah yang paling dominan dalam isi MoU, di samping ada juga isu lain yang masuk dalam MoU tersebut. Empat poin tersebut juga menggambarkan isu yang menjadi perhatian di Sumatera. Yang tentunya berbeda dengan isu di pulau lain.
Sumatera menyumbang pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 24%. Dan dari 24% tersebut, sumbangan terbesar berasal dari pertanian dengan angka 22,4%. Ini menandakan bahwa Sumatra adalah daerah pertanian. Dan juga daerah perkebunan.
Empat poin tersebut jika berhasil diwujudkan dengan baik, insya Allah akan memberikan dampak positif kepada perekonomian Sumatera. Konektivitas yang semakin baik, akan berdampak kepada perkembangan pariwisata dan juga distribusi barang dan jasa yang kian lancar. Termasuk distribusi pangan serta hasil pertanian dan perkebunan.
Dan terbangunnya industri hilir bisa memberikan efek multiplier sehingga pendapatan meningkat, pengangguran berkurang, kemiskinan juga berkurang. Perlu usaha yang serius dan kebersamaan yang baik untuk mewujudkan hal tersebut.
Langkah - Langkah untuk terus menggenjot sektorpertanian tersebut, Prof. Irwan Prayitno meminta pihak perbankan untuk lebih memperhatikan petani, terutama dalam hal penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) guna membantu permodalan.

“Jangan persulit petani yang ingin mengambil KUR atau pinjaman lain untuk modal mengembangkan pertanian merekaMengapa harus membantu petani, karena menurut Gubernur petani bisa terlepas dari jeratan rentenir yang bunga atas pinjaman sangat besar.
“Kalau bunga pinjaman kepada rentenir dalam setahun bisa sampai 600 persen, sedangkan KUR hanya 7 persen saja” ungkapnya.
Lanjut, Irwan Prayitno mengatakan alasan petani meminjam modal kepada rentenir dengan alasan prosesnya yang sangat mudah dan tidak lama. Hal tersebut berbanding terbalik dengan peminjaman modal di bank-bank yang urusannya lama, banyak persyaratan yang harus dipenuhi.
“Seharusnya pihak bank harus memberi perhatian yang lebih kepada petani, faktanya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumbar yang tertinggi adalah dari sektor pertanian mencapai 23 persen dan tenaga kerja pun banyak diserap dari sektor pertanian, jadi rugi bila tak peduli kepada petani” ujarnya.
Gubernur juga meminta kepada setiap daerah agar anggaran untuk bidang pertanian harus proposional.
“Jika petani sudah sejahtera, maka masyarakat madani bisa terwujud” sebutnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Sumbar Darwisman menyampaikan untuk tahun 2018 target KUR di Sumbar adalah 4,45 triliun, dan dia optimis hingga akhir tahun realisasinya bisa mencapai target.
“BRI punya target 2,2 triliun dan sudah terealisasi 1,9 triliun, kemudian untuk Bank Nagari target 1,1 triliun dengan realisasi 700 miliar, sedangkan BNI sudah melampaui target yakni 925 miliar dan yang terealisasi 956 miliar, terakhir Bank Mandiri terget 790 miliar terealisasi 748 miliar” rincinya.
Untuk tahun 2019, dia juga berharap agar jumlah KUR yang diberikan pusat lebih meningkat, sehingga masyarakat yang bisa dibantu pun lebih banyak.

Menurut data dari BPS Sumatra Barat, Perekonomian  Provinsi  Sumatera  Barat masih didominasi oleh sektor pertanian. Dilihat dari  distribusi  persentase  produk  domestik regional bruto atas dasar harga berlaku menurut lapangan  usaha,  sektor  pertanian  memiliki kontribusi  terbesar  dibandingkan  sektor  lain yaitu  senilai  24.84%.  (BPS  Sumbar,  2016). Untuk  mengembangkan  sektor  pertanian Provinsi Sumatera Barat,  salah satu cara  yang dapat  di  tempuh  adalah  dengan mengembangkan  komoditas  unggulan  yang berbasiskan kawasan.

Untuk data Seengkapnya di

Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Sentra Produksi Subsektor Tanaman Pangan di Provinsi Sumatera Barat 

Pendekatan  kawasan  bagi  komoditas pertanian  merupakan  suatu  upaya  untuk mencapai  produktivitas  hasil  pertanian  yang lebih baik dengan memperhatikan karakteristik wilayah  yang  ada. (Pras)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halaman