Penabur dan Penyambung hoaks suka-suka Cebong vs Kampret - Cahaya Realita

Breaking

Minggu, 06 Januari 2019

Penabur dan Penyambung hoaks suka-suka Cebong vs Kampret

Oleh_Prasetyo Budi - Siapa yang tidak tahu cebong, hewan yang disematkan pada anak kodok yang masih kecil, berwujud tidak jauh beda dengan ikan yang masih kecil, hidupnya pun juga di air, hidup damai berdampingan dengan ikan.

Kampret merupakan kelelawar kecil pemakan serangga, hidungnya berlipat-lipat, ia memiliki nama latin microchiroptera. Dalam keseharian kita, kampret dikenal sebagai hewan yang bodoh, karena ia beristirahat dan tidur dengan kepala di bawah sehingga ketika ia kencing, dengan sendirinya mengencingi dirinya sendiri. Oleh sebab itulah, hewan ini dikenal sebagai hewan yang bodoh.

Tapi naas nya kedua binatang ini tak sekeren dongeng sikancil dan kartun Tom dan Jerrry, Kedua binatang itu dijadikan sebagai bahan untuk saling mencela, mengolok, mengejek dan merendahkan satu sama lain, Cebong Untuk mencela kubu pembela Jokowi dan Kampret Untuk Kubu pembela Prabowo.

Fenomena itu makin menakutkan. Mereka menghabiskan waktu untuk menjadi pengoceh dan pengujar kebencian, penabur dan penyambung hoaks suka-suka. Waktu-waktu efektif mereka sudah terbunuh dan terkubur ke dalam lini masa dalam perang urat syaraf antarkubu, dengan sukarela menjadi tentara-tentara digital. 

Di antara Cebong dan Kampret ada yang dikaryakan secara profesional, Mereka seakan menjalankan misi suci untuk membungihanguskan lawan politik pada 2019 dengan strategi perang urat syaraf atau biasa disebut perang urat syaraf adalah suatu bentuk serangan propaganda yang dilancarkan dua atau lebih pihak yang saling bertentangan.

Perlombaan menuju RI 1 antara cebong dan kampret ini sama sekali tak menyegarkan bagi publik. Lantaran tak ada adu gagasan yang substantif dan mengandung kebaruan sama sekali. Sebaliknya, perdebatan di antara dua kubu itu justru lebih mengarah pada pesan-pesan permusuhan dan kebencian yang tak berbasiskan nalar.

Dua kelompok yang saling bertentangan  yang menggunakan nama binatang bukankah hanya akan merugikan bangsa sendiri karena hal ini akan menjadi terkotak-kotak, terlebih istilah nama binatang yang dimunculkan tidak lebih dari upaya merendahkan harkat dan martabat kita sebagai manusia.

Ingat kebebasan dalam berpolitik sudah diatur dalam undang-undang, Siapapun itu, anak, istri Orang tua, semua bebas menentukan pilihanya masing-masing, Andai saja pilihan kita dengan orang tua kita berbeda dengan pilihan kita, MIsalkan pilihan kita pada Jokowi sementara orang tua kita memilih Prabowo, akankan kita menyebut orang tua kita dengan sebutan "KAMPRET" begitu juga sebaliknya.

Stop Bawa nama binatang, Stop ujaran Kebencian, Stop Sebarkan Hoaks, Mari Kawal demokrasi untuk Indonesia Hebat, Indonesia jaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halaman