Kapan Mudik ??? - Cahaya Realita

Breaking

Jumat, 01 Juni 2018

Kapan Mudik ???

Oleh : Prasetyo Budi Pagi-pagi sudah hujan. Dan sepertinya bukan cuma di tempatku. Lihat status teman-teman di medsos juga pada bilang hujan. Itulah salah satu enaknya punya medsos, bahkan untuk tahu di tempat lain hujan apa tidak  kita tinggal mengecek status teman-teman.

Seharusnya hari ini aku berkelana berpacu bersama teman-teman untuk mengisi bok redaksi. Karena hujan ini aku tertahan di rumah. Memandangi hujan dari balik jendela. Suaranya indah. Tapi hujan di pagi hari suka bikin perasaan jadi melow..khayalan terbang kemana mana.

Ctriing!!
Itu suara notifikasi japri di Wa.
"Jangan bengong aja"
"kok tau aku lagi bengong?"
"kamu kan suka bengong di balik jendela sambil mandangi hujan pagi"
"kok tau disini hujan?"
"liat status medsos"

Aku nyengir. Sama kan?..Mantau sikon tinggal lihat status di medsos.
"Mudik nggak lebaran ini?"
"Belum tahu..kenapa nggak tunggu aja saat nanti aku buat status mudik atau nggak?"
"Kelamaan!.."
"Hehe.."
"Mudiklaah..sudah lama kan gak mudik. Sekalian nanti kita reuni kecil"

Ini nih pertanyaan yang paling sering diajukan menjelang Idul Fitri. Mudik nggak?
Dan aku saat ini bingung menjawabnya.

Aku sendiri heran. Kenapa aku kehilangan minat untuk mudik. Kalau ku bilang aku nggak merindukan sikecil dan suasana kampungku lagi kok rasanya jahat amat ya. Sedih amat kampungku nggak dirindui lagi. Apa nggak cinta lagi?
Hmmm..

Bukan nggak cinta lagi. Aku tetap cinta kampung diamana disana ada sosok kecil yang setiap saat mengharapkan aku datang kesana, tempat yang lebih dari sewindu kuhabiskan waktu disana bersama mereka yang akau cinta, tempat dimana pernah menjadi tumpuan dan harapanku dulu. tempat keluarga kecilku tinggal dan ada banyak kisah dan kenangan disana.

Lalu kenapa malas mudik?
Entahlah..

Padahal lebaran 2 tahun lalu aku bahkan mempersiapkan untuk mudik jauh sebelum bulan puasa datang.  Entah setan apa yang ada dalam benakku saat ini hingga perasaanku tahun ini malas sekali untuk meramaikan mudik dan lebaran dikampung. Tak seperti beberapa tahun lalu aku begitu semangat menerobos arus mudik yang penuh perjuangan kulakoni.

Pertengahan ramadan seperti ini sudah banyak kulihat teman-temanku sengaja posting kegembiraan berkumpul di kampung halaman aku tetap tidak bergeming. Aku juga punya kegembiraan ku sendiri berlebaran di tanah rantau.

Aku mencoba membayangkan..kampung halamanku, sanak saudara, teman-temanku, tetangga-tetangga..jalan-jalan yang seringkali kulalui setiap hari, udaranya yang sejuk, kegagahan bukit barisan berdiri kokoh yang menjadi background hamparan kebun sawit menghijau di belakang rumah.

Menggambarkan lagi sosok kecil  yang lincah sambil mengira-ngira banyak hal yang akan menyenangkan menghabiskan waktu bersamanya disana selain bersilaturahmi.

Lalu bayanganku terbentur pada sebuah rumah tua yang dingin, kosong dan hampa. Dan hatiku bergetar. Itu rumah kesayanganku. Tempat terhangat dan tujuan paling menyenangkan untuk pulang.

Rumah yang dulu selalu kurindukan setiap kali aku berkelana kemana-mana.
Tapi kenapa kali ini aku takut terluka mengingatnya? Apakah itu tanda bahwa aku tak pernah merelakan kepergian nya? Padahal aku bisa bersikeras bahwa aku sudah mengikhlaskan kepergian nya... Lalu kenapa dengan rasa  takut luka ini?  Apa yang kutakutkan untuk berada disana?

Apa aku takut disergap berjuta kenangan manis di rumah itu? Apa aku justru khawatir terjebak pada ketidak-relaan kehilangan dua penghuni utamanya yang saat ini saling berjauhan? Atau aku tak ingin tersadar bahwa ada luka yang tak kunjung sembuh karena kehilangan-Nya ??

Ctriinggg!!
"Pulanglah..jangan jadi bang toyib"
"Hahahaa.."
"Jangan ketawa sementara hatimu menangis dan airmata mengalir di pipimu"
"Kok taaauu"
"Aku tahu"
"Huh..sok tahu!"
"Pulang ya...paling tidak dengan begitu kamu jadi tahu apakah hatimu masih akan terluka atau tidak jika sudah berada disana"
"Kok kamu tau sih apa yang kupikirkan"
"Ya tau lah...setiap tahun menjelang Idul Fitri kita selalu bahas ini...membahas tentang keengganan mu untuk pulang"
"Hmmm..."
"Jangan ham hem ham hemm"
"Masa gak boleh"
"Pokoknya pulang yaaa..."
"Nanti aku pikirkan lagi"
"Kelamaaaaaannn!! keburu tiket mahal"
"Besok deh..besok aku putuskan"
"Aah..tahun-tahun kemarin juga begitu..kelamaan mikir tahu-tahu lebaran sudah lewat"
"Terserah aku donk..weee :-p "

Dia membalas dengan emotikon marah. Dan kuabaikan saja, tidak kubalas lagi.

Kubuka facebook lagi dan melihat status teman-teman yang peneuh kebahagian bersama keluarga tercintanya,  Aku ingin pulang. Benar, setidaknya aku jadi tahu apakah hatiku akan terluka lagi jika sudah benar-benar berada disana. Dan tiba-tiba ada sejumput haru dalam rindu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halaman