Secangkir Kopi Insomnia - Cahaya Realita

Breaking

Kamis, 03 Mei 2018

Secangkir Kopi Insomnia

Oleh Prasetyo Budi : Sebentar-sebentar ku lirik jam di layar hp ku. Hampir dini hari..tinggal beberapa menit lagi. Kerjaan sudah selesai. Ku buka akun medsos..uh bosan..isinya cuma begitu-begitu aja. Kalau bukan orang narsis ya orang kepo. Eh enggak semua juga sih. Tapi tetap bikin aku bosan. Tengok-tengok grup Watsapp ..hmm..mulai hening. Padahal tadi sore bisiing sekali cetang ceting entah apalah apalah yang diposting. Masih ada yang online gak yah...yuhuuu... aku kirim pesan. Senyap. Gak ada yang balas. Gak ada yang baca juga. Ah...malangnya aku. Sendirian, gak bisa tidur. Mata ini segar nyalang enggan terpejam. Iya, aku punya sleep disorder. Insomnia. Nama yang cantik tapi rasanya sungguh menyebalkan. Btw, kenapa namanya insomnia yah? Kayak nama cewek gitu, kenapa bukan insomarno..hehe. Aku kena insomnia sejak sebelum SMP.

Awalnya ada teman ngajak ke pasar karena kebetulan dia dapat lotre ( jaman dulu porkas) ceritanya traktiran makan-makan. Kami duduk-duduk lama diterminal yang selalu ramai hilir mudik angkot menaik turunkan penumpang dan memperhatikan orang lewat. Tak terasa jam menunjukkan jam 12 lewat dan pulanglah kami. Ternyata selama aku di terminal terjadi kehebohan di rumahku. Dikira  ibu aku diculik. Mungkin karena aku ganteng kali yah. Atau diculik wewe gombal hehe.  Pas tiba di rumah ibu menangis memelukku. Kan aku jadi bingung ada apa.Ternyata saking hebohnya aku hilang oleh keluarga sampai didukunin untuk mencari aku yang dikira diculik. Tapi kejadian itu gak bikin aku kapok, karena sudah tahu senangnya nongkrong malam di terminal besok-besoknya aku ya main keluar malam lagi kalau ada kesempatan, biasanya malam minggu. Berlanjut sampai aku SMP. 

Kalau habis main keluar malam sesampai di rumah jadi  gak bisa tidur. Padahal selama diluar kerjaannya ya kalau dulu cuma duduk-duduk saja di pinggir jalan lihat orang lewat. Kebetulan rumahku letaknya dipinggir jalan  raya yang dilalui bus-bus dari jogja yang mau ke Jakarta. Nah dari sanalah aku mulai mengidap penyakit susah tidur. Padahal aktifitas siang hari ku termasuk aktif dan aku orangnya enerjik sekali. Biasanya kan kalau lelah di siang hari malamnya pasti enak tidur tapi aku malah susah tidur. Awalnya sih gelisah, kesal bahkan kadang prustasi gara-gara gak bisa tidur cepat. Lama-lama ya jadi biasa. Aku sudah bisa menerima keadaanku ini jadi ya ku nikmati saja lah.

Setiap kali malam beranjak menuju pagi saat orang-orang lelap dibuai mimpi aku malah sedang sibuk menggambar atau membaca atau apa sajalah supaya bisa cepat mengantuk. Ketika mulai kerja dan jaman gadget tiba kerjaan ku ya main hp atau menjahili teman-teman di grup medsos dengan cara mengirim pesan-pesan gak penting. Aku gembira ngakak kalau ada teman yang mengomel panjang pendek gara-gara hp-nya jadi berisik oleh suara notifikasi pesanku. Aku begadang semalaman padahal pagi-pagi sudah harus ngantor.

Suatu malam, seperti malam-malam yang lain mata ku masih secerah bintang di langit. Sementara grup WA senyap. Semua sudah terlelap. Sama seperti senyapnya lingkungan tempat tinggalku. Tinggal si Guguk milik tetangga yang masih sibuk menggonggong entah apa yang digonggongnya.  Iseng ku ping teman-teman. Tak ada yang menyahut. Mungkin memang sudah tidur dan men-silent hp mereka karena kapok sering kujahili.  Tiba-tiba, "PONG!!!"  Ahhaa..ada yang balas. Biasanya kalau dibalas begitu bisa lanjut ngobrol sampai pagi. Ngobrol apa saja pokoknya mengalir hingga tak terasa pagi menjelang. Tapi jawaban kali ini agak lain dari biasanya. Dijawab dengan makian "Woooi...bising. Ganggu aja!!" malah kadang lebih judes "hantu gentayangaaann!!" tapi ya biar dijawab dengan judes tetap saja ujung-ujungnya ketawa ketiwi dan ngobrol asyik panjang lebar kali tinggi.
Ku lihat siapa yang menjawab ping ku. Ohoooy...ternyata  ciwik manis. Teman baru sih. Aku belum lama mengenalnya.

"belum tidur moy?"
"udah" si Amoy menyertakan emotikon nyengir.
"lha terus ini siapa yang jawab kalau kamu sudah tidur?"
Amoy ngakak dengan emotikon yang banyak.
"Mesin penjawab mas"
Halah..
"lagi apa?"
"lagi ngopi" jawabnya. Aih..malam-malam gini ngopi.
"Gak takut susah tidur ngopi malam?"
"enggak ngopi aja tetap susah tidur, ya sudah sekalian diminumin kopi" Nah lo..ternyata dia juga penderita insom.
"Minum kopi itu seperti menjalani hidup ini mas. Biar pun pahit kita akan tetap meminumnya sampai habis"
Bener juga ya.
"Dan kopi itu sahabat yang setia. Dibalik pahitnya dia memberikan sekecap rasa manis. Meskipun dia hitam dia membuat pandangan kita jadi terang" 
Oyy..asyik juga filosopi kopi ciwik ini. Dan obrolan mengalir seperti aliran sungai Musi. Hanya sinyal lemotlah yang bisa membuat kami saling menunggu balasan. 

Banyak obrolan dari mulai bagaimana sebaiknya aku memanggilnya sampai kisah bagaimana kami akhirnya sama-sama jadi penderita insomnia.

"Semua obat insomnia itu bullshit, mas. Buktinya aku, kamu dan banyak penderita insom lainnya belum juga sembuh" katanya. Hehe, benar juga ya. Aku jadinya ikut-ikutan menyeduh segelas kopi biar ngobrol jadi tambah asyik. 
"Kita ngopi bareng ya" kata ku sambil mengirimkan foto segelas kopi yang baru diseduh. Amoy membalasnya dengan foto segelas kopi yang telah berkurang seperempat gelas. Bersama gelas -gelas kopi yang menemani percakapan kami waktu berlalu tanpa terasa. Ngobrol sambil ngopi memang menyenangkan yah.

Tak terasa Adzan Subuh berkumandang membelah pagi dan kami berbarengan pamit dan mengakhiri percakapan. Tapi ini bukanlah percakapan terakhir. Malam berikutnya kami bercakap-cakap lagi. Selalu saja ada bahan yang diobrolkan. Tak lupa ditemani segelas kopi.

"Pernah punya pacar cyber gak?"
Duh kaget juga ya diajui pertanyaan seperti itu oleh perempuan. 
"Gak pernah" jawabku.
"Gak pernah percaya kalau belum ketemu langsung"
"Menghadapi wanita di dunia nyata aja sulit apalagi di dunia cyber. Wanita itu sulit untuk dimiliki dan dimengerti."
"Aku gak sulit kok mas :D " katanya. Jlebbb..rasanya gimanaa gitu pas Amoy bilang itu. Tapi aku pura-pura biasa saja. Padahal sudah mulai jedak jeduk hati ku. Lagi pula kuanggap dia bercanda. Amoy mah begitu orangnya. Kalau sudah bercanda suka ceplas ceplos polos.
"Wanita itu suka aneh. Kalau didekati dia menjauh. Giliran kita jauhi dia mendekat" lanjutku.
"Wuuh kalau aku dikejar ya kutangkap"
Uhuuyyy...ni anak serius apa canda seeeh. Jadi garuk-garuk layar hp dah.
"Tapi biasanya cowoknya yang takut" katanya lagi.
"Takut ketagihan" celetuk ku. Dia ngakak dengan emotikon tertawa lebar yang banyaaaakk.

Begitulah awalnya. Dari bercanda-canda akhirnya ngobrol tentang cinta deh. Bagaimana sebuah kisah cinta bisa dijalin tanpa bertemu muka. Ahaaii..cinta-cintaan ala cyber. Persis seperti kopi, gelap tapi bikin mata melek terang benderang. Pahit tapi ada manis-manisnya dan terus diminum sampai habis. Malam-malam insomnia ku jadi serasa meriah. Gemepyar seperti percikan kembang api malam kongyan. 

Hening malam tiba-tiba jadi seperti papan tulis hitam yang boleh kami tulisi dengan kapur tulis. Merangkai bait-bait puisi indah. Nada pemberitahuan pesan masuk di hp serasa denting piano yang merambat pelan mengiringi lagu kasih yang kami senandungkan. Insomnia tidak lagi menjadi sebuah penderitaan. Dan secangkir kopi pahit jadi teman setia dan saksi  rangkaian cerita cinta kami. Secangkir kopi insomnia yang rasanya tralala trilili. Ah...indahnya hidup. Hidup ini akan ku buat untuk membuat orang lain tersenyum dan bahagia. Uang bukan segalanya dan hidup yang penting bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Halaman