Film : Review Film: 'Rampage' (2018) - Cahaya Realita

Breaking

Selasa, 24 April 2018

Film : Review Film: 'Rampage' (2018)

CAHAYAREALITA.com - Rampage, bahkan saat baru melihat trailernya saja. Film ini dibintangi oleh, bukan satu, bukan dua, tapi tiga hewan buas yang siap menggila dan membuat kekacauan. Hewan buas bukan sembarang hewan buas, melainkan hewan buas mutan: gorila raksasa, serigala terbang, dan buaya monster. Tambahkan anakonda gergasi, maka saya akan mengobral rating 5. Dan siapa lagi aktor yang bisa menjual film sedungu itu kalau bukan Dwayne "The Rock" Johnson. Rasanya mustahil untuk membuat film yang membosankan dari premis yang konyol seperti itu. 
Namun film ini ternyata tak semenggelikan dan seasyik yang saya kira. Tentu saja saat mereka mengamuk di kota, melempar mobil, menerkam helikopter, atau memporak-porandakan gedung, filmnya jadi seru betul, karena hellaw tak ada film yang tak seru kalau menampilkan adegan-adegan tersebut. Usaha untuk membuat plot yang kredibel lah yang menahannya untuk menjadi film yang hqq serunya. 

Apakah kita butuh penjelasan panjang lebar mengenai bagaimana sesuatu terjadi? Apakah kita peduli dengan konspirasi dari perusahaan riset yang keji? Apakah kita percaya bahwa film mempersembahkan analogi tragedi 9/11 padahal sebelumnya menampilkan kematian tokoh antagonis demi tujuan komikal? Cepat bawa 4 monster tadi (saya memasukkan Dwayne Johnson ke dalam hitungan) ke kota dan biarkan mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan. 

Sebagaimana yang kita tahu, film ini diangkat dari salah satu permainan mesin dingdong. Kalimat tadi adalah pernyataan jebakan. Kalau anda langsung mengangguk saat membacanya, berarti anda sudah jadi papa/mama generasi milenial. Atau minimal om/tante generasi milenial. 

Saya jadi ngelantur. Oke, lanjut. 

Bagi adik-adik ucul yang belum tahu soal dingdong, bisa diklik disini. Cara memainkan permainan Rampage sederhana: kita boleh mengontrol salah satu dari 3 monster untuk menghancurkan kota sehancur-hancurnya sembari menghindari serangan balik dari militer. Monster ini aslinya adalah manusia yang termutasi. Tapi film menggantinya dengan hewan yang terinfeksi oleh serum beracun buatan Engyne Corp. Untuk memberitahu kita betapa berbahayanya serum tersebut, film dibuka dengan stasiun luar angkasa yang diluluhlantakkan oleh seekor tikus mutan. Saya mohon agar ia tolong dibuatkan film sendiri. 

Serum ini jatuh ke 3 tempat: sebuah hutan, sebuah rawa, dan sebuah cagar alam. Tempat terakhir kebetulan dihuni oleh George, gorila albino cerdas yang bersahabat karib dengan Dwayne Johnson yang kali ini berkesempatan bermain sebagai ahli primata bernama Davis Okoye. Tentu saja, tak mengejutkan saat mengetahui bahwa Davis sebelumnya adalah seorang tentara, karena film ini nanti membutuhkannya untuk memiloti helikopter dan menenteng senapan. 

Pastinya, kemunculan tiba-tiba dari monster-monster ini mustahil tak ketahuan, dan pemerintah berusaha mati-matian untuk menetralisir mereka. Ini dia film yang membutuhkan sikon dimana para pemegang tanggung jawab harus selalu bandel dan tak mengindahkan saran dari para ahli di bidangnya (ehem, satir dikit biar dikira intelek), agar bencana yang lebih besar bisa terjadi. Dalam hal ini, Rampage tak mengecewakan. Keputusan-keputusan dungu memberi kans bagi monster-monster kita untuk semakin menggila. 

Yang berada di peringkat pertama soal kedunguan adalah dua bersaudara petinggi Engyne Corp, Claire (Malin Akerman) dan Brett (Jake Lacy) yang punya ide brilian untuk memancing 3 monster ini ke gedung utama mereka yang btw berada di tengah kota hanya demi mengambil sekeping DNA. Bagaimana mereka melakukannya? Siapa peduli. Kalau anda mulai mempertanyakan logika, maka patut diingat bahwa Claire dan Brett memancing monster ke gedung mereka saat MEREKA MASIH BERADA DI GEDUNG TERSEBUT! 

Tak perlu logika karena semua itu semata-mata merupakan prolog agar para monster kita bisa berkumpul di satu tempat sembari mengacak-acak apapun di sepanjang jalan mereka. Tidak jelas pula bagaimana cara menghentikan monster raksasa yang nyaris tak bisa ditaklukkan ini, meski kalau saya ingat lagi rasa-rasanya film menggunakan piranti plot berupa vaksin. Huft. Sebenarnya tak perlu sih, soalnya kan kita sudah punya DWAYNE "THE ROCK" JOHNSON! 

Kalau film berhenti disana lalu alih-alih menyajikan lebih banyak huru-hara yang ditimbulkan monster, maka saya takkan mengurangi rencana pemberian rating 4 tadi. Namun, ada sedikit nuansa-nuansa agak serius yang coba dihadirkan lewat karakter Naomi Harris yang bermain sebagai mantan ilmuwan Engyne Corp serta persahabatan antara Davis dengan George. Ini tak keliru sih sebenarnya, tapi tone-nya tidak begitu ngeklik dengan film secara keseluruhan, sehingga terasa agak canggung. 

Satu-satunya materi aditif lain yang saya nikmati cuma Jeffrey Dean Morgan yang memberikan penampilan seolah sangat menyadari bahwa ia sedang bermain di film seperti apa. Dengan gaya sengaknya yang sok keren, ia mengklaim diri sebagai agen rahasia yang bukan CIA, FBI, atau Justice League, melainkan OGA, "Other Goverment Agency"/"Agensi Pemerintah yang Satunya" yang bertugas membereskan misi-misi nyeleneh. Salah satu anggota timnya adalah Joe Manganiello yang langsung menghilang sebelum ia punya kesempatan untuk pamer sixpack. 

Film ini melibatkan tim dari San Andreas, film bencana yang juga dibintangi Johnson, termasuk sutradara Brad Peyton. Efek spesialnya meyakinkan, dan Peyton sepertinya cukup mampu menghandel spektakel besar yang melibatkan monster raksasa dan kehancuran spektakuler. Mudah untuk mengikuti kekacauan yang disajikannya di momen puncak yang baru hadir di 15 menit terakhir. Saya berharap semua ini terjadi lebih awal, karena jujur saja, bagian sebelum itu lumayan membosankan. Barangkali film ini bakal jauh lebih asyik kalau ia tak malu-malu untuk tampil konyol sepenuhnya. ■UP 

Follow Ulasan Pilem di twitter: @ulasanpilem

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halaman